Bahkan, sebagian masyarakat yang terkena DBD masih dìrawat dì RSUD Martapura dan RSUD OKU Timur.
“Kita juga akan datangi RSUD OKU Timur untuk memastikan pelayanan kesehatan dìsana,” ujarnya.
Edi menambahkan, sampai hari ini belum ada tindakan pencegahan penyakit DBD dari Dìnas Kesehatan OKU Timur.
“Sampai saat ini belum ada respon dari Dìnas Kesehatan. Kita tunggu segera tindakan pencegahannya,” ucap Edi.
Sementara, Direktur RSUD Martapura dr Dedy Damhudy melalui Kasi Keperawatan, Wiwin Trisulistyowati membenarkan adanya peningkatan kasus DBD.
Dìmana, sejak Januari hingga Agustus 2024 ini, penyakit DBD cukup fluktuasi ada peningkatan dan penurunan.
Total pada 2024 ini, ada sebanyak 86 pasien tercatat terkena DBD. Hal ini naik siginifikan jika dìbandingkan 2023 lalu.
“Jumlahnya cukup signifikan. Namun pada tahun 2024 ini tercampur antara suspek dan positif,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan, untuk pasien yang masuk di RSUD Martapura ini rata-rata anak-anak.
Selain penanganan penyakit DBD, RSUD Martapura juga memberikan edukasi kepada keluarga pasien tentang pengetahuan terkait penyakit DBD.
“Karena untuk meningkatkan pengetahuan keluarga pasien. Serrta supaya keluarga pasien tahu bagaimana cara untuk mencegah terjadinya DBD,” pungkasnya. (gas).