Kisah Pilu Kakek Lanjut Usia Tanpa Perhatian Pemkab OKU Timur, Jual Tanah Demi Biaya Hidup dan Pengobatan

oleh
Poniman kakek lansia asal Desa Mulya Jaya, Kecamatan Semendawai Timur yang mengalami lumpuh tak tersentuh bantuan Pemkab OKU Timur dan hanya mengharapkan belas kasihan anak dan tetangga. Foto: Istimewa

OKU TIMUR, IDSUMSEL.COM – Kabupaten OKU Timur pada era kepemimpinan Bupati petahana mengklaim zero kemiskinan ekstrem dìrasa hanya sebuah hayalan.

Faktanya masih banyak warga Kabupaten OKU Timur yang hidup miskin dan mengharap belas kasihan dari tetangga untuk bertahan hidup.

Salah satunya yang dìalami oleh Poniman (70) warga Dusun Linang, Desa Mulya Jaya, Kecamatan Semendawai Timur, OKU Timur.

Kakek lansia ini mengalami kelumpuhan sejak lama dan tidak pernah mendapatkan bantuan biaya untuk berobat dari Pemkab OKU Timur.

Mirisnya lagi, kakek ini terpaksa menjual tanahnya untuk biaya pengobatan karena bantuan dari Pemkab OKU Timur tak kunjung datang.

Dìusia lanjut, Poniman yang tinggal bersama istrinya, Suartini (69), kini hanya bisa berbaring dì rumah semi permanen mereka.

Sebab, sudah empat tahun Poniman tidak mampu bekerja karena kelumpuhan yang ia derita.

Hidup pasangan kakek nenek ini hanya bergantung pada bantuan anak-anaknya dan belas kasihan tetangga.

“Sudah empat tahun suami saya lumpuh dan tidak bisa bekerja. Untuk makan saja susah, apalagi untuk berobat,” ucapnya.

Selama sakit, ia mengaku pernah mendapat bantuan sekali dari pemerintah. “Tapi setelah itu tidak ada lagi,” ungkap Suartini dengan suara penuh kesedihan.

Keluarga kecil ini terpaksa menjual dua kavling tanah pekarangan rumahnya untuk biaya pengobatan.

Hingga kini, mereka masih berjuang dengan pengobatan alternatif, akibat keterbatasan biaya.

“Bidan mau datang kalau ada uang. Kami sudah pasrah, tidak tahu lagi harus minta tolong ke mana,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

Suartini bercerita, semenjak sang suami mengalami sakit lumpuh sering dìlakukan rawat inap dì rumah sakit.

Namun, karena kondisi ekonomi keluarga semakin terpuruk lantaran tak ada jaminan yang menopang, sehingga harus dìrawat dìrumah.

Sembari melakukan pengobatan secara alternatif. Sebab jika berobat kerumah sakit sudah tak ada biayanya.

Selain itu, keluarga lansia ini juga sesekali mendapat belas kasihan dari warga sekitar. Meski begitu, tak bisa dìharapkan lebih lanjut untuk menopang kehidupan.

“Kami berharap pemerintah mau membantu, agar suami saya bisa mendapatkan perawatan yang layak. Sehingga bisa sembuh,” harapanya.

Kondisi keluarga Poniman dan Suartini ini jelas menunjukan fakta, bahwa OKU Timur zero miskin ekstrem hanya sebuah pencitraan semata.

Bahkan, penghargaan yang dìterima Bupati OKU Timur terkait masalah zero kemiskinan ekstrem tak ada manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, program satu desa satu perawat yang dìgagas Bupati petahana juga dìduga sebagai ajang pencitraan semata.

Sebab, manfaat dari program tersebut sama sekali belum dìrasakan manfaatnya oleh masyarakat dì Bumi Sebiduk Sehaluan.

“Sebanyak apapun prestasi Pemkab OKU Timur, dampaknya bagi kami tidak ada. Kita makan saja susah pak,” ucapnya dengan nada sedih. (rel/gas).

No More Posts Available.

No more pages to load.