OKU TIMUR, IDSUMSEL.COM – Kabupaten OKU Timur menjadi daerah penyumbang produksi ikan patin terbanyak dì Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Pasalnya, pada 2023 lalu produksi ikan patin asal Bumi Sebiduk Sehaluan ini mencapai 43.013.90 ton.
Meningkatkan produksi ikan tersebut tidak terlepas dari komitmen Pemkab OKU Timur melalui Dìnas Perikanan dan Perternakan (Dìskanak).
Dìmana Dìskanak sukses melakukan pembinaan terhadap ratusan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) dì 20 kecamatan.
Kepala Dìskanak OKU Timur Yuni Haryanto SST, melalui Kabid Perikanan Dedi Irawan SPt mengatakan, produksi ikan OKU Timur tiap tahun mengalami peningkatan.
Tak hanya Patin, produksi Ikan Mas, Nila, Bawal, Lele dan Gurame rata-rata juga mengalami peningkatan.
Dìmana pada 2023, produksi ikan Nila mencapai 3.681.97 ton, ikan Mas sebanyak 810.65 ton dan ikan bawal berjumlah 1.058.80 ton.
Kemudian, produksi ikan Lele mencapai 6.822.36 ton dan ikan Gurame sebanyak 691.15 ton.
Jika dìtotal secara keseluruhan dari pembudidayaan dan penangkaran, produksi ikan dì Kabupaten OKU Timur mencapai 56.078.827 ton per tahun.
“Dari hasil total produksi itu, ikan Patin tetap penyumbang terbanyak dì Sumsel, yakni mencapai 70 persen,” ungkap Dedi, Rabu 15 Mei 2024.
Jumlah tersebut kata Dedi, merupakan hasil produksi dari kolam tetap dan kolam tidak tetap, yang dìkelola oleh masyarakat atau Pokdakan.
Dìmana saat ini jumlah Pokdakan dì Kabupaten OKU Timur yang tersebar dì 20 kecamatan sebanyak 266 kelompok.
Selain Pokdakan, budidaya ikan juga dìbantu dengan Kelompok Pengelola dan Pemasaran (Poklasar).
“Jumlah Poklasar saat ini baru sebanyak 10 kelompok. Namun ada juga 2 koperasi perikanan produk pakan,” papar Dedi.
Selain menggunakan kolam tetap dan tidak tetap sambung Dedi, masyarakat melakukan budidaya menggunakan media sawah.
Salah satu contohnya memakai teknik Minapadi, Penyelang, Palawija serta Keramba.
Sistem Mina Padi itu yakni sawah dìtanami padi juga sambil memelihara ikan. “Biasanya interaksinya antara padi dengan ikan Mas,” kata Dedi.
Lalu untuk teknik penyelang, yakni sistem budidaya ikan antara musim panen padi ke musim tanam berikutnya.
“Itu biasanya lahan sawah menganggur, kemudian lahan itu dìpakai untuk memelihara ikan,” ucap Dedi.
Mengenai budidaya ikan sistem palawija, maksudnya memanfaatkan lahan-lahan seperti ladang.
Dìmana, lahan atasnya terdapat tanaman palawija. Namun dì lahan samping-sampingnya terdapat kolam untuk memelihara ikan.
“Kebanyakan sistem palawija ini dìpakai untuk memelihara ikan mas dan ikan lele,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi juga sangat mengapresiasi para kelompok yang terus konsisten mau dìlakukan pembinaan.
Sebab, pencapaian ini bisa berhasil berkat kerja keras para Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan).
Terlebih Dìskanak juga terus komitmen melakukan pembinaan, dengan menyalurkan bantuan bibit, pakan dan vitamin.
“Sehingga ikan-ikan hasil budidaya masyarakat ini bisa panen sesuai waktunya,” pungkas Dedi.
Dedi menambahkan, pembinaan terhadap Pokdakan ini juga terus dìlakukan setiap tahun.
Hal ini selain untuk menjaga hasil produksi, juga sebagai upaya peningkatan produksi ikan dì Kabupaten OKU Timur. (gas).







