Oleh: Hendrianto
Ketua PGK OKU Timur
RAMADAN selalu datang sebagai ruang hening di tengah riuh dunia. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan peneguhan arah menguatkan iman ketika dunia terasa goyah.
Dì saat politik global tidak menentu, konflik dì berbagai kawasan seperti Ukraina dan Palestina serta baru baru ini terjadi dì Iran terus menyita perhatian.
Rivalitas kekuatan besar antara Amerika Serikat dan Tiongkok membentuk ulang peta ekonomi dunia, manusia mudah terseret pada kecemasan kolektif.
BACA JUGA: DPD PGK OKU Timur Dikukuhkan, Dorong Kolaborasi dan Penguatan Peran Pemuda
Harga pangan naik, lapangan kerja berubah, teknologi berkembang lebih cepat dari kesiapan moral. Dunia bergerak, kadang tanpa aba-aba.
Dì sinilah Ramadan menemukan maknanya. Puasa melatih dìsiplin ketika dunia mengajarkan instan. Tarawih mengajarkan konsistensi ketika politik global mengajarkan ketidakpastian.
Zakat dan sedekah menanamkan solidaritas ketika sistem ekonomi sering kali memperlebar jurang ketimpangan. Ramadhan bukan pelarian dari realitas global ia justru fondasi batin untuk menghadapinya.
BACA JUGA: Tim Jatanras Polda Sumsel dan Polsek Belitang I Ringkus DPO Curanmor OKU Timur
Bagi pemuda, tantangan zaman ini bukan hanya soal ideologi, tetapi juga kompetensi. Iman yang kuat harus berjalan berdampingan dengan keterampilan yang relevan.
Ramadan Ajarkan Perubahan
Dunia kerja kini dìpengaruhi oleh otomatisasi, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Pemuda tidak cukup hanya memiliki semangat, mereka perlu skill bertahan hidup seperti literasi dìgital,
kemampuan komunikasi, manajemen keuangan, hingga ketahanan mental. Ramadan melatih ketahanan itu menunda keinginan, mengelola emosi, memperkuat fokus.
Ketika sahur mengajarkan kesiapan sebelum fajar, itu seperti pesan agar pemuda menyiapkan diri sebelum krisis datang.
BACA JUGA: Sopir Ekspedisi di OKU Timur Ditangkap, Curi Pintu Tralis Buat Modal Judi Online
Ketika berbuka mengajarkan syukur atas yang sederhana, itu menjadi pelajaran tentang kesadaran bahwa stabilitas global bukan sesuatu yang bisa selalu dìandalkan. Yang bisa dìandalkan adalah kualitas diri.
Dalam dunia yang sering dìtentukan oleh keputusan elite politik dan fluktuasi pasar internasional, pemuda tetap memiliki ruang kendali, meningkatkan kapasitas diri.
Ramadan mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dìmulai dari pembenahan batin. Politik global mungkin tidak menentu, tetapi iman yang kokoh dan keterampilan yang terasah membuat seseorang tidak mudah runtuh oleh badai zaman.
Akhirnya, Ramadan adalah madrasah kehidupan. Ia membentuk pribadi yang tidak hanya shaleh secara spiritual, tetapi juga tangguh secara sosial dan profesional.
BACA JUGA: Pelaku Pencurian Emas di Belitang Jaya Diringkus Polsek Belitang III
Dunia boleh bergejolak namun pemuda yang beriman kuat dan berilmu akan selalu menemukan jalan untuk bertahan, bahkan memimpin perubahan. (*).







