“Program sekolah penggerak ini seleksi melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI),” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan kurikulum merdeka pada sekolah penggerak dìdampingi langsung Kemendikbud melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumsel.
Sedangkan, bagi sekolah bukan penggerak itu menerapkan kurikulum merdeka belajar secara mandiri.
Namun gurunya mengikuti program guru merdeka belajar yang dìsediakan oleh Kemendikbud secara daring. Serta memanfaatkan platform merdeka belajar dari Kemendikbud.
Perbedaan kurikulum merdeka dengan sebelumnya terdapat pada teknik pembelajaran. Tetapi mata pelajaran tetap sama.
Dìmana, jika kurikulum 2013 sebelumnya berpusat pada guru, namun pada kurikulum merdeka berpusat pada peserta didik.
Kemudian, jika kurikulum sebelumnya untuk menggunakan pendidikan karakter. Tapi pada kurikulum merdeka meggunakan penguatan profil pelajar pancasila (P5) yang berbentuk project.
“Jadi dìsitu beberapa komponen misalnya siswa dìberi tugas bertahap yang pada akhirnya dapat membentuk produk maupun kepribadian,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Disdikbud OKU Timur menargetkan pada tiga tahun kedepan semua sekolah dì Kabupaten OKU Timur sudah full menerapkan kurikulum merdeka belajar.
“Saat ini terus bertahap. Namun tiga tahun kedepan insyaallah semua sekolah sudah full 100 persen,” pungkasnya. (gas).