PALEMBANG, IDSUMSEL.COM – Banjir yang melanda Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dan Ogan Komering Ilir (OKI) dalam sepekan terakhir berdampak signifikan terhadap sektor pertanian.
Ribuan hektare sawah terendam, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan produksi padi dì dua wilayah sentra pangan tersebut.
BACA JUGA: OKU Timur Terima 1.000 Unit Rumah Program BSPS Kementerian PKP, Realisasi Mulai Maret
Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Sumatera Selatan mencatat total lahan sawah terdampak banjir mencapai lebih dari 8.000 hektare.
Genangan air terjadi dì berbagai sentra produksi padi dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda, tergantung fase pertumbuhan tanaman.
BACA JUGA: Bupati Lanosin Dianugerahi Gelar Suttan Mangku Kewedaan I, Resmi Kenakan Kepodang Komering
Kepala DPTPH Sumsel, Bambang Pramono, menjelaskan bahwa sawah yang paling terdampak adalah lahan yang baru memasuki masa tanam.
“Sekitar 3.995 hektare sawah mengalami kerusakan karena padi masih berusia muda dan belum kuat menahan genangan air,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Percepat Penyaluran Bantuan Bibit
Meski demikian, Bambang menyebut lebih dari 4.000 hektare sawah lainnya masih berpeluang dìselamatkan.
Tanaman padi dì lahan tersebut telah mendekati masa panen sehingga relatif tahan terhadap banjir.
BACA JUGA: Warga Mangulak Laporkan Oknum Satresnarkoba ke Propam Polda Sumsel
“Tanaman yang sudah tua tidak sampai menyebabkan puso,” katanya.
Untuk mengantisipasi penurunan produksi pangan, pemerintah daerah berencana mempercepat penyaluran bantuan benih padi.
Langkah ini dìtujukan agar petani dapat segera melakukan tanam ulang setelah kondisi lahan kembali normal.
Sementara itu, dì Kabupaten OKI, banjir menjadi ancaman serius bagi lumbung pangan daerah.
BACA JUGA: Banjir OKU Timur Rendam 2.624 Rumah di Enam Kecamatan, Belitang II Terparah
Data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) OKI menunjukkan sekitar 6.000 hektare sawah terdampak.
“Tersebar dì Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, Air Sugihan, dan Jejawi,” tambahnya.
Optimis Pertahankan Produksi Padi
Plt Kepala DKPTPH OKI, Alexsander Bustomi, menyebut Kecamatan Lempuing dan Lempuing Jaya sebagai wilayah dengan dampak terparah.
Kedua kawasan tersebut selama ini dìkenal sebagai penyangga utama produksi padi dì OKI.
BACA JUGA: Operasi Narkoba di OKU Timur Memanas, Polisi Dihadang Warga Saat Penangkapan di Mengulak
Meski menghadapi tekanan berat, Alexsander tetap optimistis produksi padi masih bisa dìpertahankan.
Menurutnya, sebagian lahan telah mencapai indeks pertanaman (IP) 200 bahkan IP 300, sehingga memungkinkan petani melakukan tanam ulang dalam satu tahun.
“Setelah air surut, petani masih bisa kembali menanam. Kami optimistis produksi tidak turun signifikan,” ujarnya.
BACA JUGA: Tinjau Banjir, Enos-Yudha Berikan Bantuan Logistik dan Cek Aliran Sungai
Pemerintah daerah kini fokus pada percepatan pemulihan lahan pertanian dan mitigasi banjir. Hal ini agar dampak terhadap ketahanan pangan Sumatera Selatan dapat dìtekan. (**).


