IDSUMSEL.COM – Raden Ajeng Kartini hadir sebagai cahaya di tengah gelapnya keterbatasan yang membelenggu perempuan pada masanya.
Dì tengah kuatnya adat yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap, ia berani berpikir berbeda.
Baginya, perempuan bukan sekadar penjaga rumah tangga, melainkan manusia utuh yang berhak atas ilmu, kebebasan, dan masa depan yang mereka pilih sendiri.
BACA JUGA: Diguyur Gerimis, Pelajar SDN 19 Martapura Tak Gentar Kibarkan Semangat Kartini
Perempuan adalah sumber kekuatan yang sering kali tak terlihat, namun terasa dampaknya dì setiap lapisan kehidupan.
Dalam diam, mereka memikul peran yang kompleks—sebagai individu, pendidik pertama dalam keluarga, sekaligus bagian dari masyarakat yang terus bergerak.
Kekuatan perempuan bukan hanya tentang ketahanan menghadapi kesulitan, tetapi juga tentang kemampuan untuk terus belajar, tumbuh, dan memberi makna pada perubahan.
Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan. Dengan ilmu, perempuan dapat berdiri mandiri, berpikir kritis, dan menentukan arah hidupnya sendiri.
BACA JUGA: Pelajar 15 Tahun di OKU Timur Hanyut di Sungai Komering, Tim SAR Lakukan Pencarian
Ia mendorong perempuan untuk belajar, membaca, menulis, dan membuka wawasan seluas mungkin.
Baginya, perempuan yang berilmu akan mampu mendidik generasi berikutnya dengan lebih baik, sehingga perubahan tidak berhenti pada satu generasi saja.
Kartini Dukung Kemajuan Bangsa
Linda Aditya Angganis Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan DPD PGK OKU Timur menegaskan, pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam membuka potensi tersebut.
Pengetahuan memberi mereka suara untuk menyampaikan gagasan, memperjuangkan hak, dan mengambil keputusan yang lebih bijak dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
BACA JUGA: Satresnarkoba Polres OKU Timur Tangkap Bandar Ekstasi Lintas Provinsi di Perjaya
“Semangat yang dìperjuangkan Kartini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga hak perempuan dalam berpikir dan menentukan jalan hidupnya sendiri,” ujarnya.
Hari ini, perjuangan itu masih terasa dalam kehidupan nyata. Terlihat pada ibu yang bekerja demi masa depan anaknya.
Perempuan desa yang berani melanjutkan pendidikan, hingga perempuan yang membangun usaha sendiri dari rumah.
Bahkan, banyak yang kini bersuara melalui media sosial, menyampaikan gagasan dan memperjuangkan perubahan sebuah bentuk baru dari apa yang dulu Kartini lakukan lewat tulisan.
BACA JUGA: Kecelakaan Bus Pengantar JCH OKU Timur di Belitang, Sopir Diduga Main HP Saat Nyetir
Kemajuan bangsa tidak akan tercapai tanpa kemajuan perempuan, karena perempuan adalah pendidik pertama bagi generasi penerus.
Kartini: Dari Rumah Hingga Ruang Publik
Lilis Martani Bendahara DPD PGK OKU Timur menambahkan, perempuan yang berpendidikan bukan berarti meninggalkan kodratnya, melainkan memperluas perannya.
Ia mampu berdiri tegak, berpikir kritis, dan mengambil keputusan dengan bijak. Dari rumah hingga ruang publik, dari keluarga hingga masyarakat, perempuan adalah penggerak perubahan.
“Perempuan bukan pelengkap, tetapi penggerak perubahan. Ketika perempuan dìberi ruang, dunia menjadi lebih seimbang, dan masa depan menjadi lebih cerah,” ungkapnya.
BACA JUGA: Penggerebekan Sarang Narkoba di Desa Bantan OKU Timur, Lima Tersangka Diringkus
Hari Kartini bukan sekadar peringatan, tetapi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Masih ada mimpi yang harus diperjuangkan, suara yang harus dìdengar, dan kesempatan yang harus dìperluas.
Karena sejatinya, perempuan bukan hanya tentang siapa dìa hari ini, tetapi tentang seberapa besar ia berani melangkah untuk masa depan.
Kartini Agen Perubahan
Hendrianto Ketua DPD PGK OKU Timur mengatakan, perempuan dengan pendidikan dan kesadarannya, memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih setara.
BACA JUGA: Pembunuhan di Masjid Ponpes Romadhon OKU Timur, Pemuda Tikam Kakek Hingga Tewas
Mereka bukan hanya bagian dari sistem sosial, tetapi juga agen perubahan dì dalamnya. Ketika perempuan diberi ruang untuk berkembang, dampaknya tidak berhenti pada individu, melainkan menjalar ke keluarga, komunitas, hingga bangsa.
Maka, berbicara tentang perempuan tidak terlepas dari kekuatan, pendidikan, hingga sosial semuanya saling terhubung. Membentuk sebuah narasi besar tentang perjuangan, harapan, dan masa depan yang lebih inklusif. (*).






