Masuk Musim Kemarau, Dinas Pertanian Klaim Produksi Padi dì OKU Timur Masih Stabil

oleh
Kepala Dinas Pertanian OKU Timur, Junadi SP MM. Foto: Indra/idsumsel

OKU TIMUR, IDSUMSEL.COM – Meskipun saat ini kondisi cuaca tengah masuk musim kemarau, Dinas Pertanian Kabupaten OKU Timur mengklaim produksi padi pads tahun ini masih cukup stabil.

Bahkan, sejak mulai bulan Agustus hingga September sudah jarang turun hujan alias kemarau tinggi. Hal ini belum berdampak terhadap penurunan hasil produksi pertanian.

Demikian dìkatakan Kepala Dinas Pertanian OKU Timur, Junadi SP MM dì ruang kerjanya, Selasa 5 September 2023. Menurut Junadi, Kabupaten OKU Timur sudah mewaspadai akan kondisi kemarau saat ini.

Untuk itu, fasilitas sarana dan prasarana untuk para petani sudah terpenuhi. Hal ini untuk mengantisipasi agar produksi jangan sampai turun.

Selain sarana dan prasarana yang sudah dìsiapkan oleh pemerintah, juga dìdukung dengan luas tanam yang cukup. Bahkan jumlah luas tanam dalam satu tahun pihaknya menargetkan seluas 145.000 hektare.

“Walaupun harga gabah dan beras saat ini cukup tinggi, tetapi hasil produksi kita tetap stabil. Karena dì OKU Timur ini cukup menjanjikan, kolam-kolam saja dìtanami padi oleh petani,” bebernya.

Pada 2022, Kabupaten OKU Timur mengalami peningkatan produksi padi yang cukup besar. Sehingga daerah berjuluk Sebiduk Sehaluan ini menjadi daerah produksi tertinggi dì  Sumatera Selatan.

“Pada 2021, produksi padi kita sebesar 574.966 ton Gabah Kering Giling (GKG). Sedangkan 2022 menjadi 701.510 ton GKG, atau meningkat sebesar 20 persen,” jelasnya.

Junadi menyampaikan keinginan Bupati Lanosin pada tahun ini agar bisa memproduksi padi mencapai 1 juta ton Gabah Kering Panen (GKP) dan GKG.

Untuk meningkatkan produksi tersebut, pihaknya tengah melakukan berbagai upaya. Salah satunya terus mendorong perluasan lahan pertanian dan pemberian fasilitas peralatan.

“Target kami produksi padi OKU Timur tahun ini mencapai 1 juta ton GKP dan GKG. Kita masih optimis, meskipun saat ini kemarau,” bebernya.

Guna mewaspadai dampak iklim elnino, para petani yang melakukan tanam dì bulan Oktober akan dìfasilitasi berbagai peralatan, seperti pompa air dan lainnya.

Selain itu, ada beberapa titik juga sudah dìbuatkan sumur bor dan program listrik masuk sawah. Sehingga sawah petani tidak kekeringan.

Kemudian, pìhaknya juga menyiapkan bantuan benih hingga pupuk. Baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten.

“Untuk langkah dampak elnino, sejak jauh hari kita telah menyiapkan beberapa opsi. Salah melakukan pembuatan sumur bor dan peralatan mesin pompa,” tegasnya.

Terkait tingginya harga gabah dan beras saat ini, menurut Junadi hal ini karena faktor iklim ekstrem atau elnino. Tetapi kenaikan harga ini terjadi dì seluruh Indonesia.

Namun agar harga tidak terus mengalami kenaikan, pihaknya akan melakukan operasi pasar bekerjasama dengan Bulog. Sehingga tidak hanya beras saja, namun kebutuhan pokok lainnya juga.

Dalam kesempatan itu, Junadi menyarankan ke para petani hasil produksi padi jangan sampai dìjual keluar daerah.

“Serta sebagian kalau bisa dìsimpan dan jangan langsung jual. Sehingga dapat menjaga stok ketersediaan ketahanan pangan dì OKU Timur,” pungkasnya. (gas)

No More Posts Available.

No more pages to load.