Musim Kemarau Produksi Getah Karet Menurun, Petani di OKU Timur Lesu

oleh
Petani karet Desa Perjaya OKU Timur tetap menyadap karet meski diterpa musim kemarau. Foto: Dok/idsumsel

OKU TIMUR, IDSUMSEL.COM – Memasuki musim kemarau, sejumlah petani dì Kabupaten OKU Timur mulai lesu. Baik petani padi maupun petani perkebunan.

Pasalnya, dampak kemarau membuat tanaman petani mengalami kekeringan dan terancam mati.

Bahkan, hasil produksi getah karet dì beberapa wilayah dì Kabupaten OKU Timur juga mengalami penurunan.

Suryadi petani Karet asal Desa Keromongan, Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur mengaku lesu dengan cuaca kemarau.

Sebab, akibat cuaca panas yang berlebihan menyebabkan pohon karet miliknya mengugurkan daun-daun.

Hal ini tentu berdampak terhadap produksi getah karetnya menurun. “Jika produksi getah turun, penghasilan kita juga ikut turun,” ungkapnya kepada idsumsel.com.

Menurut Suryadi, menurunnya produksi getah karet dì kebunnya sudah sejak pekan lalu. Padahal harga getah saat ini lumayan baik.

“Harga karet saat ini Rp 12.350 per kilogram dan lebih baik dari pekan lalu hanya Rp 12.000 per kilogram,” ucapnya.

Suryadi mengaku menyadap pohon karetnya dua minggu sekali. Dìmana per minggu hasil produksi karetnya mencapai 72 kilogram.

“Sekarang ini per minggu hasil sadapan hanya mencapai 50 kilogram. Cukup banyak turunnya,” katanya, Kamis 08 Agustus 2024.

Ia memprediksi kondisi seperti ini bakal berlangsung panjang, sebab musim kemarau masih lama.

“Awal musim kemarau saja sudah susut produksi getqh karet ini. Apalagi minggu depan dan seterusnya,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dìalami Vivin buruh sadap karet dì Desa Perjaya, Kecamatan Martapura. Vivin mengaku lesu dengan kondisi saat ini.

“Karena faktor alam, maka tetap kita syukuri saja meskipun hasilnya turun,” paparnya.

Biasanya kata Vivin, puncak musim kemarau terjadi Oktober. Hal ini membuat produksi getah karet menurun hingga 50 persen.

“Penurunan getah karet ini tentunya sangat menyulitkan kita selaku buruh sadap karet. Sebab penghasilan juga ikut menurun,” keluhnya.

Terpisah, Jamal salah satu tengkulak
karet mengaku, jik musim
kemarau seperti ini produksi getah cendrung menurun.

Hal ini dìsebabkan faktor cuaca yang
panas dan membuat getah yang keluar tidak maksimal dan cepat kering.

“Musim kemarau seperti ini kebanyakan buruh sadap atau petani karet mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” terangnya.

Ia menyampaikan, untuk harga karet dalam minggu ini memang mengalami kenaikan, namun produksi getah karet menurun.

“Jika produksi turun harga getah malah cenderung naik. Ini sudah hal biasa dalam ilmu ekonomi,” pungkasnya. (gas).

No More Posts Available.

No more pages to load.