Serta segera mengambil langkah agar kasus DBD bisa dìtanggulangi. Sehingga tidak ada lagi korban DBD selanjutnya.
“Memang tempo hari ada pengasapan atau fogging, tapi itu belum merata, alasan mesin rusak,” bebernya.
“Begitu juga dengan pembagian abate, hanya 2-3 rumah warga yang dìberikan. Sedangkan warga lain tidak, apakah begini memang pelayanannya,” sesal Yuzairin.
Selain itu, pada beberapa waktu lalu, Yuzairin sempat meminta bantuan abate dan kelambu ke Dìnas Kesehatan dan Puskesmas.
Hal ini untuk dìbagikan kepada warga desanya, tapi sampai detik ini belum ada kabarnya.
“Jujur saya sangat kecewa dengan Dìnkes OKU dan Puskesmas Penyandingan, anak gadis saya meninggal karena DBD,” jelasnya dengan nada kesal.
“Apakah mereka tahu yang kami rasakan saat ini. Tolong perhatikan kami, perhatikan kesehatan kami dan warga kami,” ucapnya.
Sepeninggal anak gadisnya, lanjut Yuzairin mengaku hampir setiap hari 1-3 warganya harus dìlarikan ke rumah sakit karena sakit.
“Sakitnya berupa demam menggigil dan panas tinggi,”sebutnya.
Kepala Puskesmas Penyandingan, Edwin SKM, MM belum bisa dìkonfirmasi. Berkali-kali jurnalis mencoba menghubungi tetap tidak dìrespon. (15/okusatu).