OKU TIMUR, IDSUMSEL.COM – Masyarakat Martapura Kabupaten OKU Timur mengeluhkan ribetnya proses pembelian tabung Gas LPG 3 kilogram.
Bahkan, masyarakat harus rela mengantri dari pagi dì pangkalan demi mendapatkan tabung gas melon tersebut.
Sulitnya mendapatkan gas ini setelah adanya kebijakan pemerintah pusat yang melarang pengecer dan warung-warung menjual tabung gas 3 kilogram.
BACA JUGA: Perampok Bersajam Gasak Sopir Mobil Fuso di OKU Timur, Uang Rp 5 Juta Raib
Selain mengantri masyarakat juga wajibkan membawa KTP. Bahkan KTP tersebut wajib terdaftar dì aplikasi My Pertamina (MAP).
Sebab saat ini warung-warung tidak lagi menjual tabung gas LPG 3 kg, jika pun ada harganya cukup tinggi.
Pengelola pangkalan Gas Hendra dì Kelurahan Pasar Martapura, Sukma menyampaikan, masyarakat yang membeli gas wajib bawa KTP.
Kemudian, KTP masyarakat itu juga wajib terdaftar dalam aplikasi My Pertamina (MAP).
“Jika KTPnya tidak terdaftar dalam aplikasi My Pertamina, maka tidak kita layani,” ungkap Sukma.
Sukma menjelaskan, dalam satu KK mendapatkan jatah empat tabung dalam satu minggu.
BACA JUGA: Atasi Kelangkaan Gas Elpiji, Pertamina Gelar Operasi Pasar, 5 Menit Habis Dìserbu Warga
Kemudian, untuk pelaku UMKM dalam satu Minggu dapatkan dua jatah tabung.
“Untuk harga kita tetap mengikuti HET yakni Rp19.500 per tabung. Sejauh ini belum ada kenaikan,” ungkapnya.
Menurut Sukma, tabung gas masuk dalam pangkalan sebanyak tiga kali dalam seminggu.
“Masuk kadang 75 tabung sampai 80 tabung,” bebernya.
Sukma mengaku sering mengalami beberapa kendala dalam melayani pembeli, seperti masyarakat yang sering rebutan.
“Ya Kadang tabung gas sudah habis, tapi masyarakat tetap maksa mau membeli. Bahkan sering ada yang tidak percaya bahwa gas habis,” cetusnya.
Beli Gas Mahal dan Sering Kosong
Sementara, Clau salah satu masyarakat Kumpul Sari, Kelurahan Dusun Martapura mengaku harga gas dì warung saat ini mencapai Rp 27 ribu.
“Ya sekarang ini tabung gas 3 kg kadang ada kadang kosong dì pengecer. Harganya juga cukup tinggi,” ungkapnya.
Clau berharap pemerintah memberikan solusi yang tepat agar harga gas sama dengan HET.
“Kita berharap meskipun dì pengecer harga gas tetap sama sesuai HET. Kalau begi kita masyarakat makin susah,” ucapnya.
Menurut Calu, harga di pengecer ini sering naik turun, tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti itu.
Padahal harga HET jual tabung gas LPG ini sudah dì tetapkan oleh pemerintah. Sebagai masyarakat kecil kondisi ini menyulitkan.
“Apalagi ini mau bulan puasa dan lebaran, kalau beli gas susah, tentu menyulitkan kita,” katanya.
BACA JUGA: Perampok Bersajam Gasak Sopir Mobil Fuso di OKU Timur, Uang Rp 5 Juta Raib
Sementara, Tuti Desa Kota Baru Selatan, Kabupaten mengatakan, pasca harga eceran tertinggi (HET) naik menjadi Rp 18,500, LPG 3 kg menjadi langka.
Tidak hanya langka, harga LPG dì warung-warung juga menjadi naik signifikan.
“Sebelumnya Rp 25 ribu per tabung saat ini naik sampai Rp 30 ribu. Itupun sering kosong,” tuturnya.
Tuti menuturkan, setiap minggu ia membutuhkan sekitar 5 tabung gas LPG. Sebab untuk kebutuhan usaha kantin dì Komplek Perkantoran Bupati OKU Timur.
“Makanya sebagian membeli dì agen, sebagian lagi harus membeli dì warung. Tapi saat ini warung sering kosong,” pungkasnya. (gas).







