OKU TIMUR, IDSUMSEL.COM – Perayaan Hari Raya Idulfitri dì wilayah lima eks marga Komering Ulu, Kabupaten OKU Timur, memiliki tradisi unik yang masih terjaga hingga kini.
Tradisi tersebut dìkenal dengan sebutan “Luah Luah”, yang sarat makna silaturahmi dan penghormatan kepada leluhur.
Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang memiliki ritual adat khusus menjelang Lebaran, masyarakat dì lima eks marga lebih mengedepankan kebersamaan keluarga tanpa seremoni adat formal.
BACA JUGA: Sedekah Balaq, Tradisi Warga OKU Timur Jaga Warisan Budaya
Kelima eks marga komering ulu, Kabupaten OKU Timur tersebut yakni Bunga Mayang, Paku Sengkunyit, BP Peliung, BP Bangsa Raja, dan Tanjung Raya (Belitang).
Ziarah Makam dan Bersih Rumah
Ketua Lembaga Pembina Adat OKU Timur, H Leo Budi Rachmadi menjelaskan, bahwa tradisi Luah Luah telah dìwariskan secara turun-temurun.
Bahkan, tradisi ini masih tetap dìlestarikan hingga sekarang dì tengah gempuran era digitalisasi. Tradisi ini kata Leo, dìlakukan sejak sepekan sebelum Idulfitri hingga H-1.
“Kegiatannya berupa ziarah makam keluarga sekaligus membersihkan lingkungan sekitar hingga barang antik khas komering,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Menurutnya, Luah Luah bukan sekadar kegiatan ziarah, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur dan refleksi diri menjelang hari kemenangan.
Selain ziarah, masyarakat juga melakukan pembersihan rumah secara menyeluruh. Halaman dìbersihkan, perabot lama dìtata ulang.
BACA JUGA: Tari Sada Sabay, Simbol Sakral Pernikahan Adat Komering dari OKU Timur
“Barang antik khas Komering seperti peti dan lemari tua dìpoles agar kembali terlihat indah,” bebernya.
Menariknya, proses pembersihan dilakukan dengan cara tradisional. Peralatan berbahan tembaga, misalnya, dìbersihkan menggunakan asam jawa lalu dìgosok hingga mengkilap.
“Hal ini menjadi simbol kesiapan menyambut Idulfitri dengan suasana bersih dan tertata,” tambah Leo.
BACA JUGA: Mengharukan, Puluhan Tahun Berpisah, Dua Veteran Perang Kemerdekaan RI Kembali Bertemu
Makan Bersama hingga Silaturahmi
Memasuki Hari Raya, masyarakat melaksanakan Salat Idulfitri secara berjamaah. Setelah itu, keluarga berkumpul menikmati hidangan khas Lebaran.
“Seperti ketupat, lemang, rendang, opor ayam, pempek, hingga kue tradisional seperti kue angkak dan lapis puan,” katanya.
Suasana hangat semakin terasa saat tradisi saling bermaaf-maafan dìlakukan antar anggota keluarga.
Silaturahmi kemudian dìlanjutkan dengan mengunjungi kerabat, tetangga, hingga tokoh agama dan adat.
BACA JUGA: OKU Timur Kembangkan Kamus Digital Bahasa Komering Berbasis Android
“Nilai utama dari tradisi ini adalah mempererat hubungan kekeluargaan, menghormati orang tua, serta menjaga harmoni sosial,” tambahnya.
Ia berharap generasi muda dì Sumatera Selatan, khususnya dì wilayah Komering, dapat terus melestarikan tradisi tersebut dì tengah perkembangan zaman.
BACA JUGA: Hujan Deras Iringi Malam Lebaran di Belitang, Warga Tetap Antusias Takbiran Keliling
“Ini adalah identitas budaya. Jika tidak dìjaga, bisa hilang. Peran keluarga sangat penting untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (gas).







